Bendar, Pengecualian Sebuah Desa Nelayan

 

Di desa itu nelayan tak tinggal di gubuk reyot, tapi di rumah-rumah seperti istana, gedung dua lantai bahkan lebih, pilar-pilar tinggi, lantai berlapis marmer, dan atap genteng beton. Ada rumah dilengkapi kolam renang. Di tengah udara panas perkampungan yang berbatasan dengan laut, kolam renang itu terasa maknyus. Desa itu bernama Bendar. Diapit Laut Jawa dan Jalan Raya Pos (De Grote Postweg), bersisian dengan Sungai Juwana. Di desa ini, bayangan tentang kampung nelayan seperti yang ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam novelnya, Gadis Pantai, seperti kehilangan jejak. Di buku itu, Pram menulis kemiskinan desa nelayan di Rembang yang persis berbatas dengan Juwana, ”Dia (kampung) pun tidak berubah. Atap-atap rumbainya tak ada yang baru.” ”Tahun 80-an, desa kami memang masih seperti itu. Rumah- rumah masih kumuh dan masyarakat masih miskin,” kata Bpk.H.Sariyani , nelayan Bendar. Sariyani mulai melaut sejak tahun 1952 dengan perahu layar. Kini, Sariyani memiliki tujuh kapal, masing-masing berbobot di atas 100 gross ton. Harganya lebih dari Rp 10 miliar per unit.

Sariyani contoh nelayan Bendar yang sukses memulai usaha dari nol. Kisah serupa dituturkan nelayan Bendar lainnya. Tengoklah Bendar kini. Tak tercium bau selokan. Hanya bau amis laut yang samar-samar. Selebihnya, udara segar menguar dari rimbun tanaman di depan rumah gedongan, bersisian mobil-mobil keluaran terbaru. Di Sungai Juwana, kapal-kapal ditambatkan. Salah satunya milik Saudara Hadi Sutrisno (41). Kapal berbobot di atas 100 GT itu tengah dimodifikasi dengan menambah alat pembeku (freezer) dan tiang penarik jaring. ”Sasaran tangkap kami sekarang ZEE (zona ekonomi eksklusif),” kata jebolan Universitas Diponegoro ( UNDIP ) ini. Kehidupan nelayan mulai membaik ketika pemerintah mengeruk Sungai Juwana tahun 1980-an. Sebelumnya, pelumpuran sempat mematikan Juwana, yang dua abad lalu merupakan bandar dan pusat industri galangan kapal pantai utara Jawa, selain Rembang dan Lasem. Dengan ramainya kapal ke Sungai Juwana setelah pengerukan itu, industri pengolahan ikan pindang marak. ”Pernah dalam setahun omzet tangkapan nelayan di sini mencapai Rp 340 miliar,” kata Saryani. ”Saya pernah ke Desa Bendar di Juwana, kaget juga melihat nelayan makmur. Tapi, saya belum tahu persis apa yang membuat mereka sejahtera,” ujar Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Departemen Kelautan dan Perikanan Ali Supardan. Mungkin banyak orang yang sulit percaya ada nelayan makmur di negeri bahari yang tidak menghargai lautnya ini!

Menurut Direktur Riset dan Kajian Strategis Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria, dari dua juta nelayan, 70 persen berkategori miskin. Menopang pertanian Kesuksesan Desa Bendar ternyata meluber ke luar desa. Ratusan petani di sebelah selatan Jalan Raya Pos bergantung kepada nelayan Bendar. Begitu musim tanam lewat, mereka berbondong-bondong ke Bendar untuk melaut. ”Hampir 90 persen awak kapal di sini petani,” kata Hadi Sutrisno , nelayan dengan empat kapal. Dia lulusan Fakultas Ekonomi, Universitas Diponegoro. ”Untuk modal tanam, kami biasa menjadi anak buah kapal (ABK). Hasil bertani hanya cukup untuk makan, sering kali kurang,” kata Jarpan (42), petani dari Desa Tunggul Sari, Kecamatan Kaliori. Sejak tahun 1980-an, seiring lonjakan ekonomi Bendar, desa ini mulai kekurangan awak kapal. Hampir semua nelayan di sini memiliki kapal sendiri. Bahkan, ada yang punya hingga 25 kapal. Satu kapal rata-rata membutuhkan awak hingga 40 orang. Di kedai kopi, di tepi Sungai Juwana, Zuhdi (59) menegaskan, kelebihan nelayan Bendar adalah mereka mempunyai sifat tidak mudah menyerah.

 

Nelayan Bendar juga tidak berfoya-foya. ”Sejak dari menjadi ABK, kami berhemat agar dapat membeli kapal sendiri,” ujar Zuhdi. Zuhdi tidak membual. Ia mengisahkan perjalanan hidupnya sendiri. Lelaki yang tak tamat sekolah dasar itu hanya bisa tanda tangan, tapi tak bisa baca-tulis. Zuhdi mesti memulai dari nol. Bermula dari tukang bersih lantai kapal, enam kapal dimilikinya. Kini, Zuhdi membangun dua rumah mewah bertingkat untuk dua anaknya. Ketika nelayan di tempat lain mulai tiarap pascakenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), Zuhdi malah membuat perahu lebih 100 GT untuk memperkuat armadanya. Zuhdi menambahkan, ekonomi nelayan ditopang peran perempuan yang ikut bekerja. ”Mereka yang biasa menjual hasil tangkapan. Sisanya diolah menjadi ikan pindang,” katanya. Hubungan kekerabatan sangat kental di Bendar. Nakhoda dan kepala kamar mesin rata-rata memiliki hubungan saudara dengan pemilik kapal. Sistem ijon tak dikenal, yang ada bagi hasil. Nakhoda dan krunya kebanyakan memiliki saham di kapal yang mereka operasikan. Dengan sistem ini, tak ada lagi kemiskinan struktural di Bendar. ”Dengan hubungan kekerabatan ini dan pembagian saham, kemungkinan penjualan hasil tangkapan di tengah laut jadi tipis. Kita kerja saling percaya,” ujar Saudara Hadi Sutrisno. Hampir 70 persen dari 800 keluarga nelayan di Desa Bendar adalah pemilik kapal. Di Desa Bendar, bayangan suram tentang nelayan kehilangan jejaknya….

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan