Nelayan Mulai Beralih Dari Cantrang Karena Tak Menguntungkan

 

Kampung Nelayan Desa Juwana Pati

Suasana aktivitas nelayan di Kali Silungonggo. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Para nelayan sebetulnya menyadari bahwa penggunaan alat tangkap cantrang tidak menguntungkan. Selain merusak ekosistem, hasil tangkapan cantrang didominasi ikan kecil yang harganya pun murah di pasaran.
Lambat laun para nelayan mulai menerima kebijakan KKP yang melarang penggunaan cantrang. Apalagi setelah KKP gencar menenggelamkan kapal asing ilegal, hasil tangkapan nelayan lokal semakin melimpah.
 

Mansur

Kepala PPN Pekalongan Mansur (Foto: Arifin Asydhad/kumparan)

 
 
Kepala Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pekalongan, Mansur, mengatakan, dalam musim paceklik saja, perolehan ikan nelayan sekali menjaring bisa mencapai 40 ton. Sedangkan di musim normal, rata-rata 60 ton.
“Biasanya kalau triwulan 1 dan 3 itu paceklik bagi nelayan, kalau triwulan 2 dan 4, itu baik. Jadi sekarang ini musim paceklik,” ujar Mansur saat ditemui kumparan di PPN Pekalongan, Jawa Tengah, pekan lalu.
 

Nelayan Pati

Nelayan pulang melaut membawa hasil tangkapan (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Mansur menyebut, saat ini di Pekalongan sudah tidak ada lagi nelayan yang menggunakan cantrang. Mayoritas alat tangkap yang digunakan adalah purse seine dan gill nets. Berdasarkan data tahun 2016, dari 2.423 alat tangkap yang digunakan nelayan Pekalongan, 1.166 di antaranya menggunakan purse seine pelagis kecil (PSPK). Sisanya adalah pengguna purse seine pelagis besar (PSPB), gill nets dan alat tangkap angkut.
Selain itu, dengan beralih ke alat tangkap selain cantrang, penghasilan nelayan semakin meningkat. Jumlah tangkapan ikan memang menurun karena alat tangkap yang digunakan lebih selektif, namun nilai produksinya justru melonjak.
 

Nelayan Pati

Nelayan bekerja di tengah laut (Foto: Hadi Sutrisno)

Pada tahun 2014, sebelum cantrang dilarang, jumlah tangkapan ikan di Pekalongan sebanyak 20.800 ton dengan nilai produksi Rp 199 juta. Sementara tahun 2015 jumlah tangkapan ikan menurun menjadi 17.500 ton namun nilai produksinya meningkat menjadi Rp 205 juta.
“Tahun 2016 meningkat lagi. Jumlah tangkapan ikan 19.600 ton dengan nilai produksi Rp 255 juta,” ujar Mansur.
 

Kapal Cantrang

Kapal Cantrang yang beralih alat tangkap (Foto: Arifin Asydhad/kumparan)

 
 
 
Sementara di Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, menurut koordinator Forum Nelayan Bersatu, Hadi Sutrisno, jumlah pengguna cantrang masih sekitar 20%. Dari sekitar 1.000 nelayan yang ada, ada 150-200 nelayan yang belum meninggalkan cantrang.
“Masalahnya cuma di permodalan. Mereka sebenarnya mau meninggalkan cantrang, tapi bank enggak ada yang berani kasih pinjaman modal. Itu kendalanya,” kata Hadi.
 

Kampung Nelayan Desa Juwana Pati

Nelayan mengisi bahan bakar kapal saat bersandar. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Hadi mengakui, saat ini masih banyak nelayan yang meminta batas toleransi penggunaan cantrang diperpanjang. Kelonggaran yang diberikan KKP hingga Juni mendatang, bagi sejumlah nelayan masih belum cukup. Menurutnya konsultan bank yang disediakan KKP sejauh ini juga belum memberikan solusi.
“Konsultan dari KKP enggak optimis, jadi bank malah semakin ragu. Padahal potensi bisnis perikanan ini sangat menguntungkan,” kata pria yang juga anggota Forum Nelayan Bersatu ini.
 

Beralih ke Cantrang

Kapal Cantrang yang sudah beralih alat (Foto: Arifin Asydhad/kumparan)

 
Dia berharap, permasalahan permodalan ini akan segera menemukan solusi, mengingat saat ini bisnis perikanan menunjukkan bukti nyata yang menguntungkan.
 

Infografis Cantrang Dilarang

Infografis Cantrang Dilarang (Foto: Ridho Robby/kumparan)

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan