Mengenal Kampung-kampung Nelayan di Indonesia

BENDAR- Desa Nelayan atau kampung nelayan merupakan sebuah daerah yang berlokasi dengan kawasan penangkapan ikan. Perekonomiannya berbasis perikanan tangkap dan pemrosesan ikan. Indonesia yang merupakan negara maritim tentunya banyak terdapat kampung nelayan yang tersebar di tanah nusantara. Namun tahukah Anda dimana saja daerah yang disebut kampung nelayan? Berikut sederet kampung nelayan yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

  1. Pusong Baru dan Pusong Lama, Aceh

Program Sekaya Maritim (Seribu Kampung Nelayan Mandiri Teguh Indah dan Maju) menetapkan Desa Pusong Lama dan Pusong Baru sebagai kampung nelayan karena potensi lautnya yang besar. Masyarakat sekitar juga menjadikan laut sebagai sumber mata pencaharian mereka.

Nelayan di Pusong Baru mengeluarkan hasil tangkapannya.

Pada bulan April 2015, dua desa di Kota Lhokseumawe, Aceh, ditetapkan sebagai nelayan dalam program Seribu Kampung Nelayan Mandiri Tangguh Indah dan Maju (Sekaya Maritim). Alasan penetapan kedua desa ini dikarenakan letak geografisnya yang dekat dengan laut dan menjadikan hasil laut menjadi perekonomian masyarakat sekitar. Karena dijadikan kampung nelayan, sarana dan prasarana dua kampung ini ditingkatkan. Hal ini juga bermaksud untuk menjadikannya tempat pariwisata yang juga akan menambah penghasilan masyarakat Pusong Baru dan Pusong Lama.

  1. Pulau Seliu,

Kampung nelayan ini berada di Membalong, Belitung. Untuk mencapai Pulau Seliu, Anda harus menyebrangi Teluk Gembira menggunakan kapal motor dengan lama perjalanan 20 menit. Anda akan disuguhi dengan kapal-kapal nelayan yang berjejer rapih di sepanjang dermaga begitu menginjakan kaki di Pulau Seliu. Banyak pula nelayan yang tidak berlayar melakukan aktivitas di pinggir pantai. Seperti memperbaiki kapal, menjual hasil tangkapannya atau menyulam jaring. Tidak ada kendaraan berroda empat di desa ini, hanya ada motor. Jadi, jika Anda ingin mengelilingi pulau, sebaiknya Anda menyewa motor. Sebagian besar penduduk berprofesi sebagai nelayan, tetapi ada juga yang memanfaatkan tanah subur Pulau Seliu untuk bertani. Selain terkenal menjadi kampung nelayan, Pulau Seliu juga memiliki pantai indah yang bernama Marangbulo. Keindahan pantai ini tidak terkalahkan dengan Pantai Tanjung Tinggi yang Anda lihat di film Laskar Pelangi. 

3.Cilincing, Jakarta UtaraTernyata di Jakarta juga ada loh kampung nelayan. Kampung nelayan ini terletak di Jakarta Utara. Mereka mengandalkan laut sebagai tempat utama perekonomian mereka. Namun sayang, kondisi kampung nelayan ini terlihat perlu penataan lagi, agar terlihat bersih dan rapi

Anda harus sabar ketika berkunjung ke kampung nelayan satu ini. Keadaannya sangat miris karena daerah ini padat penduduk dan kumuh. Kebanyakan nelayan Cilincing bukanlah penduduk asli Jakarta melainkan dari Jawa Barat. Perekonomian kampung nelayan ini tentunya mengandalkan hasil laut. Sayangnya hasil laut tidak mampu mencukupi kebutuhan masyarakatnya sehingga banyak yang hidup kekurangan. Untuk mengatasinya, banyak penduduk yang mencari dana tambahan dengan berprofesi sebagai pedagang, pengumpul besi bekas dan pekerja di sektor lainnya

  1. Desa Bendar, Jawa Tengah

Lain dengan Cilincing, kehidupan masyarakat di Desa Bendar Kecamatan Juwana Kabupaten Pati bisa dibilang makmur. Anda tidak akan menemukan rumah-rumah reot, limbah bekas hasil laut, atau selokan yang dipenuhi air keruh dan bau. Di desa ini nelayan-nelayannya hidup makmur bahkan tinggal di rumah keramik bertingkat dan beberapa memiliki mobil. Keberhasilan penduduk desa Bendar diperkirakan sejak dikeruknya sungai Juwana pada tahun 1980. Selain itu, nelayan Bendar dikenal rendah hati. Alasan kesuksesan mereka yakni selalu hidup sederhana dan tidak mudah menyerah.

  1. Kampung Bandaran, Madura

Kampung Bandaran merupakan salah satu kampung nelayan yang bertempat di Kabupaten Bangkalan, Madura. Kampung ini termasuk kampung nelayan tradisional khas Indonesia. Cuaca di kampung laut ini terkenal tidak bisa diramalkan. Kadang cerah di pagi harinya, kemudian badai di sore hari. Cuaca yang menentu ini sering merugikan nelayan. Setidaknya ada enam kasus nelayan hilang di laut pada tahun 2015 silam akibat berlayar saat cuaca buruk.

  1. Labuan Bajo, Nusa Tenggara

Kampung nelayan satu ini sudah akrab di telinga masyarakat Indonesia bahkan dunia. Labuan Bajo merupakan kota kecil di Kabupaten Manggarai Barat yang terletak di ujung barat Flores. Pelabuhan ini dikenal turis mancanegara saat transit sebelum pergi ke pulau Komodo. Anda akan disajikan pemandangan laut yang indah saat tiba di Labuan Bajo. Pekerjaan masyarakat sekitar bergantung pada hasil laut, namun ada juga yang berkerja di dataran tinggi sebagai petani. Tidak seperti kampung nelayan yang lain, Labuan Bajo telah dilengkapi dengan hotel-hotel indah karena banyak turis yang berkunjung.

  1. Desa Mola, Sulawesi Tenggara

Tercatat 16.000 warga Suku Bajo bermukim di Desa Mola, Sulawesi Tenggara. Mengusung ucapan lama yang berbunyi “Nenek moyang suku Bajo adalah laut. Begitu lahir, anak dimandikan di laut”, suku Bajo tidak bisa tinggal jauh dari laut. Mereka membangun rumah panggung berbahan kayu di daerah pantai. Kebersihan desa Mola terjamin karena  pemerintah setempat mengajak masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan. Mata pencaharian masyarakat sudah jelas nelayan ikan, selain itu mereka juga memelihara ikan di keramba-keramba yang tersebar di sepanjang pesisir pantai. Selain itu Wakatobi juga terkenal mengekspor udang ronggennya bukan hanya ke daerah-daerah lain di Indonesia melainkan sampai ke luar negeri.

  1. Galala, Ambon

Kesibukan pelabuhan kampung nelayan Galala, Ambon. Gambar via: kota-ambon.blogspot.com

Galala merupakan kampung nelayan yang terletak di Sirimau, Ambon. Tidak hanya terkenal sebagai kampung nelayan, tetapi Galala dikenal sebagai surga kuliner kota Ambon. Sudah banyak warung makan, café bahkan restoran di pinggir pantai. Hasil tangkapan langsung diolah langsung di dapur restoran sehingga Anda tidak perlu meragukan kesegaran hasil lautnya. Selain itu, hasil tangkapan yang kebanyakan ikan laut besar yang dibakar menjadikan daerah ini terkenal sebagai pusat penjualan Ikang asar atau ikan bakar. Untuk sampai kemari, Anda harus menyebrangi teluk Ambon Baguala dengan perahu motor.

Indonesia terkenal dengan hasil lautnya yang kaya. Bahkan orang luar selalu percaya bahwa dengan hasil lautnya saja orang Indonesia bisa menafkai anak dan cucunya. Namun anggapan itu terbukti salah. Banyak nelayan kita yang masih hidup di bawah garis kemakmuran. Banyak pula kampung-kampung nelayan yang belum dapat memaksimalkan potensinya. Semoga pemerintah dapat memberi perhatian lebih kepada nelayan-nelayan Indonesia sehingga mereka bisa keluar dari kemiskinan. Salah satunya dengan terus menerapkan program Sekaya Maritim di kampung-kampung nelayan yang masih terbelakang. (AH)

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan