Bendar, Pengecualian Sebuah Desa Nelayan

Hasil gambar untuk gambar desa bendarBENDAR, Di desa ini nelayan tak tinggal di gubuk reyot, tapi di rumah-rumah seperti istana: gedung dua lantai bahkan lebih, pilar-pilar tinggi, lantai berlapis marmer, dan atap genteng beton. Ada juga rumah dilengkapi fasilitas kolam renang.

Di tengah udara panas perkampungan padat penduduk  yang berbatasan dengan laut, kolam renang itu terasa maknyus. Desa itu bernama Bendar yang terletak di Kecamatan Juwana Kabupaten Pati. Diapit Laut Jawa dan Jalan Raya Pos (De Grote Postweg), bersisian dengan Sungai Juwana. Di desa ini, bayangan tentang kampung nelayan seperti yang ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam novelnya, Gadis Pantai, seperti kehilangan jejak.

Di buku itu, Kami ( penulis ) menulis kemiskinan desa nelayan di Rembang yang persis berbatas dengan Juwana, ”Dia (kampung) pun tidak berubah. Atap-atap rumbainya tak ada yang baru.”

”Tahun 80-an, desa kami memang masih seperti itu. Rumah- rumah masih kumuh dan masyarakat masih miskin,” kata Bapak H.Sariyani (78), nelayan Bendar. Sariyani mulai melaut sejak tahun 1952 dengan perahu layar. Kini, Sariyani memiliki tujuh kapal, masing-masing berbobot di atas 100 gross ton. Harganya lebih dari Rp 8 miliar per unit.

Sariyani contoh nelayan Bendar yang sukses memulai usaha dari nol. Kisah serupa dituturkan nelayan Bendar lainnya. Tengoklah Bendar kini. Tak tercium bau selokan. Hanya bau amis laut yang samar-samar. Selebihnya, udara segar menguar dari rimbun tanaman di depan rumah gedongan, bersisian mobil-mobil keluaran terbaru.

Di Sungai Juwana, kapal-kapal ditambatkan. Salah satunya milik Sdr.Fendy Arjuna ( 30 ). Kapal berbobot di atas 100 GT itu tengah dimodifikasi dengan menambah alat pembeku (freezer) dan tiang penarik jaring. ”Sasaran tangkap kami sekarang ZEE (zona ekonomi eksklusif),” kata jebolan Universitas Gadjah Mada ini.

Kehidupan nelayan mulai membaik ketika pemerintah mengeruk Sungai Juwana tahun 1980-an. Sebelumnya, Sedimentasi sempat mematikan Juwana, yang dua abad lalu merupakan bandar dan pusat industri galangan kapal pantai utara Jawa, selain Rembang dan Lasem.

Dengan ramainya kapal ke Sungai Juwana setelah pengerukan itu, industri pengolahan ikan pindang marak. ”Pernah dalam setahun omzet tangkapan nelayan di sini mencapai Rp 970 miliar,” kata Saryani”Saya pernah ke Desa Bendar di Juwana, kaget juga melihat nelayan makmur. Tapi, saya belum tahu persis apa yang membuat mereka sejahtera,” ujar Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Departemen Kelautan dan Perikanan Ali Supardan.

Mungkin banyak orang yang sulit percaya ada nelayan makmur di negeri bahari yang tidak menghargai lautnya ini

Menurut Direktur Riset dan Kajian Strategis Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria, dari dua juta nelayan, 70 persen berkategori miski

Menopang pertanian

Kesuksesan Desa Bendar ternyata meluber ke luar desa atau daerah lain. Ratusan petani di sebelah selatan Jalan Raya Pos bergantung kepada nelayan Bendar. Begitu musim tanam lewat, mereka berbondong-bondong ke Bendar untuk melaut. ”Hampir 90 persen awak kapal di sini petani,” kata Hadi Sutrisno (39), nelayan dengan empat kapal. Dia lulusan Fakultas Ekonomi, Universitas Diponegoro. ”Untuk modal tanam, kami biasa menjadi anak buah kapal (ABK). Hasil bertani hanya cukup untuk makan, sering kali kurang,” kata Jarpan (32), petani dari Desa Tunggul Sari, Kecamatan Kaliori.

Sejak tahun 1980-an, seiring lonjakan ekonomi Bendar, desa ini mulai kekurangan awak kapal. Hampir semua nelayan di sini memiliki kapal sendiri. Bahkan, ada yang punya hingga 11 kapal. Satu kapal rata-rata membutuhkan awak hingga 15 orang.

Di kedai kopi, di tepi Sungai Juwana, H. Sudi (56) menegaskan, kelebihan nelayan Bendar adalah mereka mempunyai sifat tidak mudah menyerah, kreatif dan inofatif. Nelayan Bendar juga tidak berfoya-foya. ”Sejak dari menjadi ABK, kami berhemat agar dapat membeli kapal sendiri,” ujar H Sudi.

H.Sudi tidak membual. Ia mengisahkan perjalanan hidupnya sendiri. Lelaki yang tak tamat sekolah dasar itu hanya bisa tanda tangan, tapi tak bisa baca-tulis. H. Sudi mesti memulai dari nol. Bermula dari tukang bersih lantai kapal, lima kapal dimilikinya.

Kini H. Sudi membangun dua rumah mewah bertingkat untuk dua anaknya. Ketika nelayan di tempat lain mulai tiarap pascakenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), H. Sudi malah membuat perahu 80 GT untuk memperkuat armadanya.

H. sudi menambahkan, ekonomi nelayan ditopang peran perempuan yang ikut bekerja. ”Mereka yang biasa menjual hasil tangkapan. Sisanya diolah menjadi ikan pindang,” katanya.

Hubungan kekerabatan sangat kental di Bendar. Nakhoda dan kepala kamar mesin rata-rata memiliki hubungan saudara dengan pemilik kapal. Sistem ijon tak dikenal, yang ada bagi hasil. Nakhoda dan krunya kebanyakan memiliki saham di kapal yang mereka operasikan. Dengan sistem ini, tak ada lagi kemiskinan struktural di Bendar. ”Dengan hubungan kekerabatan ini dan pembagian saham, kemungkinan penjualan hasil tangkapan di tengah laut jadi tipis. Kita kerja saling percaya,” ujar Bambang.

Hampir 70 persen dari 850 keluarga nelayan di Desa Bendar adalah pemilik kapal. Di Bendar, bayangan suram tentang nelayan kehilangan jejaknya…. ( by Sukoco )

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan